Jumat, 12 November 2010

Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Inquiry

Inquiry merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang banyak dianjurkan untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA/Sains, Untuk mengetahui apa dan bagaimana pendekatan inquiry itu, baca artikel berikut
1. Pendahuluan

Fisika adalah bagian dari IPA yaitu ilmu tentang zat dan energi yang pada umumnya didasarkan atas pengamatan / observasi dan eksperimen. Fisika seperti halnya IPA (science) adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui / menggunakan “proses ilmiah” (scientific method), yaitu cara-cara khusus untuk menyelidiki, memecahkan masalah atau menemukan “products” (hasil-hasil ilmiah). Cara-cara tersebut antara lain : mengidentifikasi masalah, membuat hipotesis, mendesain eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengevaluasi data, menarik kesimpulan, dll.

Pengamatan terhadap gejala alam diorganisir menjadi hukum dan prinsip. Hukum dan prinsip harus dapat dijelaskan dengan suatu teori. Teori disusun sedemikian rupa sehingga dapat menjelaskan sebanyak mungkin gejala atau peristiwa yang diamati. Teori harus dapat meramalkan peristiwa-peristiwa baru yang sebelumnya tidak teramati, dan peristiwa yang diramalkan oleh teori itu harus dapat diamati baik langsung maupun tak langsung. Betapapun indahnya suatu teori dirumuskan, tidaklah dapat dipertahankan kalau tidak sesuai dengan hasil observasi. Seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein: “Science dimulai dari fakta dan berakhir dengan fakta, tidak peduli teori–teori apa yang dibangun diantaranya”. Didalam menjelaskan suatu gejala/peristiwa, kadang-kadang fisikawan memperkenalkan konsep-konsep yang mungkin asing bagi awam seperti : daya, gaya, energi, momentum, dll.,demikian pula dalam menjelaskan hal-hal yang tidak adapat teramati fisikawan sering menggunakan model seperti : model atom, model elektron, ataupun model matematis seperti : usaha = gaya x perpindahan, dll.

Fisika/IPA tidak hanya terdiri atas sekelompok fakta yang berupa hukum, prinsip, dll.,tetapi juga meliputi cara berfikir dan berkarya. Oleh karenanya kurang tepat bila pembelajaran Fisika / IPA semata-mata berupa sekumpulan fakta. Didalam membelajarkan Fisika / IPA guru tidak hanya mengharapkan agar siswa memiliki “products” atau hasil ilmiah saja, tetapi juga diharapkan agar siswa terbiasa menggunakan dan mengalami “ proses ilmiah” atau “metode ilmiah”, karena dengan demikian siswa diharapkan dapat memiliki dan mengembangkan sikap ilmiahnya.

2. Pendekatan dan Metode Pembelajaran IPA/Fisika

Ada dua pengertian dalam cara mengajarkan suatu mata pelajaran, yakni pendekatan dan metode. Pendekatan mengajar adalah langkah untuk sampai ke tujuan atau dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan (Sukarno, 1983 : 61). Dari kutipan di atas pendekatan mengajar merupakan suatu upaya/usaha yang dilakukan oleh seorang guru pada waktu menyajikan bahan pelajaran agar para siswa memperoleh ilmu pengetahuan. Metode mengajar adalah cara menyajikan atau mengajarkan suatu mata pelajaran. Pendekatan mengajar dan metode mengajar merupakan suatu hal yang kait mengkait, karena keduanya merupakan suatu usaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Pendekatan mengajar merupakan titik tolak bagi guru dalam menggunakan metode mengajar. Penggunaan metode mengajar akan berhasil baik apabila disertai dengan pendekatan mengajar yang baik dalam arti sesuai atau tepat. Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA misalnya :

a. Pendekatan induktif

b. Pendekatan deduktif

c. Pendekatan otoriter (dogmatis)

d. Pendekatan inquiry
a. Pendekatan induktif bertitik tolak dari suatui proses berfikir secara induktif yaitu rangkaian beberapa faktor atau informasi yang kemudian dapat ditarik kesimpulan yang dapat berlaku secara umum dan merupakan suatu generalisasi. Dengan menggunakan pendekatan induktif, guru mengajak siswa mengadakan pengamatan atau percobaan untuk mendapatkan keterangan atau data. Dari data dan keterangan tersebut siswa dengan bimbingan guru berusaha mengolah dan menghasilkan suatu kesimpulan. Dengan menggunakan pendekatan induktif siswa dapat melakukan aktivitas, karena siswa diajak ikut serta atau diikut sertakan dalam menganalisis, menyimpulkan data atau keterangan yang mereka peroleh sendiri melalui pengamatan atau percobaan.

b. Pendekatan deduktif bertitik tolak dari suatu hukum atau kesimpulan umum yang telah dianggap benar untuk sampai kepada suatu hukum yang baru atau suatu kesimpulan yang khusus. Pada pendekatan deduktif ini, guru mengajak atau membimbing siswa untuk merumuskan suatu kesimpulan yang khusus dari pendapat atau hukum yang berlaku umum dan dianggap betul. Sebagai contoh kita memperoleh hukum Boyle-Gay-Lussac dengan menganggap bahwa hukum Boyle adalah benar dan hukum Gay-Lussac adalah benar. Contoh lain kita memperoleh hukum Keppler III dengan menganggap bahwa hukum II Newton dan hukum Newton tentang gravitasi adalah benar

c. Pendekatan otoriter atau pendekatan dogmatis. Pada pendekatan ini gurus secara langsung mengajarkan/menanamkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kepada siswa,dan siswa menerima saja dan harus percaya mengenai kebenaran dari ilmu tersebut. Penggunaan pendekatan otoriter tidak membimbing siswa untuk berkreativitas, karena siswa tidak mendapat kesempatan untuk ikut memikirkan / mengetahui proses perumusan dari ilmu pengetahuan tersebut. Keterangan yang diterima siswa pada umumnya sudah merupakan atau mengandung suatu kesimpulan sehingga siswa menjadi pasif dan cenderung hanya menjadi pengumpul fakta saja. Dalam membelajarkan IPA-Fisika sedapat mungkin jangan menggunakan penmdekatan otoriter.

d. Pendekatan inquiry adalah pendekatan dengan cara menyelidiki atau mencari. Menurut Kuslan dan Stone dalam bukunya “ Teaching Children Science an Inquiry Approach”, “… Inquiry teaching as that teaching by which teacher and children study scientific phenomena with approach and spirit of scientist” Kutipan di atas dapat diartikan bahwa: pengajaran dengan pendekatan inquiry adalah pengajaran dimana guru dan siswa mempelajari gejala-gejala ilmiah dengan pendekatan jiwa ilmuwan. Dalam menyajikan pelajaran dengan pendekatan inquiry, guru membimbing siswa untuk beraktivitas melalui penyelidikan dan mencari atau mendapatkan data secara eksperimen. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis atau disimpulkan menjadi suatu hukum atau rumusan, sehingga diharapkan siswa dapat memperoleh konsep –konsep pengatahuan dari hasil eksperimennya sendiri. Ilmu pengetahuan atau kesimpulan yang didapat siswa, sebagian besar harus berdasarkan atas hasil usaha siswa itu sendiri. Pengamatan, penyelidikan maupun percobaan, dan analisis datanya harus dilakukan siswa sendiri dengan mendapatkan bimbingan dari guru.

Didalam membelajarkan IPA/Fisika guru dituntut sejauh mungkin menggunakan pendekatan inquiry (inquiry approach) atau pendekatan dengan menyelidiki. Dengan pendekatan inquiry, siswa dituntut sebanyak-banyaknya melakukan eksperimen atau pengamatan. Dengan demikian sekolah harus memiliki sejumlah alat – alat pelajaran IPA yang memadai baik secara kualitas maupun kauantitas. Apabila alat-alat tersebut tidak ada, guru dituntut untuk mengadakan alat-alat tersebut dengan menggunakan bahan yang sesederhana mungkin namun dapat mempunyai fungsi yang sama dengan alat-alat buatan pabrik. Pengamatan dan eksperimen tidak merupakan satu-satunya cara untuk mempelajari IPA/Fisika, dalam berbagai hal cara-cara menggunakan teori juga harus dibahas. Untuk itu guru harus mempunyai konsep yang jelas mengenai teori dalam IPA/Fisika. Percobaan atau eksperimen jangan dipandang sebagai pelengkap atau penyerta pelajaran, melainkan sebagai bagian yang terintegrasi dengan pelajaran.

Metode penyampaian dipilih sedemikian rupa sehingga sesuai dengan bahan yang akan diajarkan. Metode ceramah sebaiknya dikurangi. Proses pembelajaran sebaiknya menjadikan siswa lebih aktif, guru hanya sebagai pembimbing atau fasilitator sedangkan siswa aktif melakukan kegiatan-kegiatan. Siswa hendaknya dituntut keaktifannya baik fisik maupun mental ( intelectual-emotional). Metode yang sekiranya baik untuk pembelajaran IPA/Fisika adalah metode eksperimen, metode demonstrasi, metode tanya jawab, diskusi, metode tugas, metode proyek, dll.

3. Pendekatan inquiry dalam pembelajaran IPA-Fisika

Perkataan “inquiry” (inquire) berarti menanyakan, menyelidiki, memeriksa. Proses-proses mental dalam inquiry meliputi : merumuskan problema, mendesain eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengorganisir data, menaganalisis data, menarik kesimpulan. Selain itu juga adanya sikap jujur, objektif, hasrat ingin tahu, terbuka, mau menerima gagasan-gagasan baru atau pendapat orang lain, dsb. Sehubungan dengan hal tersebut maka pembelajaran dengan pendekatan inquiry harus meliputi pengalaman-pengalaman yang menjamin siswa dapat mengembangkan proses-proses inquiry.

Ciri-ciri pembelajaran inquiry menurut Kuslan dan Stone dalam bukunya “ Teaching Children Science : An inquiry Approach “ adalah :

a. Ada proses-proses ilmiah antara lain : mengamati, mengukur, memperkirakan, membandingkan, mengukur, meramalkan, mengklasifikasikan, bereksperimen, berkomunikasi, berpendapat, menganalisis, dan mengambil kesimpulan.

b. Jangka waktu bukan hal penting. Tidak urgen untuk menyelesaikan suatu masalah atau topik hanya karena harus memenuhi waktu yang telah ditentukan.

c. Jawaban-jawaban, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip yang dicari, sebelumnya harus tidak diketahui oleh siswa lebih dulu.

d. Siswa sunggguh-sungguh berminat dalam menemukan pemecahan masalah yang dibahas.

e. Isi atau aktivitas dalam inquiry tidak harus selalu dihubungkan dengan pengajaran-pengajaran yang telah ataupun berikutnya.

f. Setiap masalah agar diidentifikasi dan dipersempit/disederhanakan sedemikian sehingga memungkinkan dapat dipecahkan oleh kelas.

g. Hipotesis-hipotesis diaujukan oleh kelas.

h. Setiap siswa dibebani/bertanggung jawab untuk mengusulkan cara-cara memperoleh data dari eksperimen yang dilakukan, observasi, buku bacaan dan sumber lain yang bersangkutan.

i. Usul-usul tersebut dibahas dan dievaluasi oleh kelas. Bila mungkin agar dapat diidentifikasikan perkiraan-perkiraan, keterbatasan-keterbatasan, serta kesukaran-kesukaran yang bersangkutan dengan usul-usul tersebut.

j. Dalam melaksanakan penyelidikannya, siswa dapat secara perorangan atau bersama-sama dalam suatu kelompok atau bersama-sama seluruh kelas.

k. Siswa meringkas data yang diperoleh, kemudian mengambil kesimpulan sementara mengenai kesesuaiannya dengan hipotesis yang mereka ajukan. Usaha-usaha ini semua mereka lakukan untuk menghasilkan penjelasan / ketrangan ilmiah

l. Kesimpulan-kesimpulan atau penjeleasan tersebut dicari hubungannya sedemikian rupa sehingga bila mungkin dapat dihasilkan suatu konsep atau prinsip IPAyang lebih luas untuk dikembangkan selanjutnya.

Pembelajaran dengan pendekatan inquiry dapat menggunakan berbagai macam metode. Apapun metode yang dipilih hendaknya tetap mencerminkan ciri-ciri pembelajaran dengan pendekatan inquiry. Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran dengan pendekatan inquiry, anatara lain : tanya jawab, diskusi, demosntrasi, eksperimen, dll.
4. Jenis dan tingkatan dari inquiry
Ada beberapa jenis/ tingkatan inquiry, dari yang paling sederhana sampai kepada yng ideal, antara lain :
unes
Oleh: Hadi Susanto, FPMIPA UNNES
Pustaka :
Amien Moch. 1979. Apakah Metode Discovery-Inquiry itu ? Ditjen Dikti Depdikbud
Asikin S Dj. 1978. Pendekatan Inquiry. Bandung : Penataran Guru IPA SLU
Burton WH.1977. The Guidance of Learning Activities
Diyanto. 1980. Diskusi Sebagai Alat Inquiry. Semarang : Media Eksakta
Kuslan & Stone . 1968. Teaching Children Science : an Inquiry Approach.




http://sholahuddin.edublogs.org/2010/03/25/pembelajaran-ipa-dengan-pendekatan-inquiry/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar